Trustco Jateng - Lembaga Training Jawa Tengah Telp. (024) 7691 7578 / HP. 085640-750440 Solikin / HP. 085640-398242 Suratman
Sejak ayahnya memperkenalkan program televisi “The Magic School Bus” dan “Bill Nye the Science Guy”, Divya Nag yang saat itu berusia 3 tahun langsung suka. Sejak saat itu ia selalu terdorong keinginannya untuk menyempurnakan kerja suatu benda agar lebih baik.
Kebiasaan itu keterusan sampai ia sekolah. Berkat keingintahuannya yang tinggi prestasi sekolahnya pun baik. Setelah lulus dari Mira Loma High School, ia masuk ke Stanford University dengan mengambil studi bidang kedokteran. Pada saat inilah ia tertarik melakukan penelitian bidang kedokteran. Inspirasinya datang dari pemenang Nobel bidang kedokteran asal Jepang, Shinya Yamanaka, yang menemukan bahwa sek-sel kulit bisa diubah menjadi sel induk (stem cell). Penemuan itu memungkinkan pengembangan organ tubuh pengganti bagi mereka yang terserang penyakit. Berdasarkan hal itu, Nag tertarik untuk meneliti para penderita penyakit jantung di Amerika. Ia kemudian bermimpi membuat sel jantung. Karena itu, meski sebagai mahasiswa muda, ia mencoba melakukan penelitian itu. Setidaknya ia menghabiskan 60-80 jam seminggu untuk melakukannya di laboratorium kampusnya.
Untuk mengintensifkan penelitiannya Nag kemudian mendirikan lab sendiri bersama tiga rekan seniornya (dua orang profesor), bernama Stem Cell Theranostic. “Satu kontroversi saat itu adalah soal etik menggunakan sel induk dari ebmrio,” katanya. Itulah alasannya kenapa ia dan kawan-kawannya mendirikan perusahaan sendiri. Ia sendiri kemudian drop-out dari Stanford University.
Perusahaan itu mereka dirikan dengan modal pinjaman US$20 juta dari California Institute melalui program Regenerative Medicine. Kampusnya sendiri, menjamin teknologi yang digunakan Stem Cell Theranostics. Perusahaan ini malah sekarang menjadi harapan baru di dunia kedokteran modern untuk penyembuhan penyakit jantung. “Suatu hari kelak, jika Anda terkena serangan jantung, Anda tak perlu menunggu orang yang akan mendonorkan jantungnya. Kami berharap dengan menumbuhkan sel kulit Anda, Anda akan mendapatkan sel jantung Anda untuk mengganti sel-sel jantung Anda yang rusak,” ujar Nag.
Itulah sebabnya teknologi yang dikembangkannya sangat futuristik dan diharapkan banyak orang. Meski saat ini pihak FDA (Food and Drug Administration) belum memberikan lisensi produknya, tapi ia yakin lisensi itu bisa didapatkannya, maksimal 10 tahun lagi.
Banyak pihak yang memuji langkah Nag mendirikan perusahaan itu. Bahkan dengan kecerdasannya itu sampai ada yang menyebut bahwa Nag adalah “Another Bill Gates” karena masa depan industrinya yang begitu cerah.
Nag adalah anak pasangan imigran dari Jaipur, India. Ayahnya seorang manajer programer di Intel Folsom. Saat usianya 13 tahun, ia mengikuti proses interview untuk menjadi murid termuda di Folsom Lake College. Ia tertarik ke bidang geometri, pra-kalkulus, dan statistik. “Saya selalu mencari tantangan. Ketika orang bilang bahwa saya tak bisa melakukannya, itu justru membuat saya ingin melakukannya,” katanya menggambarkan sifatnya.
“Ia selalu jadi pelopor,” kata sang ayah, Harish Nag. “Sejak dari kecil ia selalu memenangkan berbagai macam penghargaan. Prestasinya melesat. Ia juga menjadi presiden dari organisasi pelajar di El Dorado Hills, Rolling Hill Middle School,” ujar ayahnya lagi menunjukkan kegiatan lain sang anak.
Nag mengatakan pada ayahnya bahwa ia ingin sekolah di Mira Loma High School International Baccalaurete di Sacramento, yang jaraknya harus ditempuh dalam waktu 45 menit dari rumahnya. Keinginannya itu karena di sana ada berbagai kegiatan sains yang menarik hatinya. Tetapi setelah sekolah di sana ternyata kegiatan itu dirasanya terlalu kecil baginya. “Saya ingin bekerja dengan para ilmuwan. Ayah saya selalu mengajarkan, ‘Jika kamu jadi orang paling pintar di kelas, keluarlah (cari tantangan lain)’,” ujar Nag. Karena itu ia pergi dan mencari tantangan baru. Perhatiannya tertambat pada laboratorium University of California (UC) Davis yang ia temukan di internet. Ada 50 ilmuwan di sana. Semua hasil riset mereka ia pelajari. Setelah itu Nag mengirimkan nilai rapor dan surat lamaran ke universitas itu untuk bekerja di sana. Maksudnya, ia ingin jadi peneliti juga.
Tak ada yang menanggapi kecuali Alexandra Navrotsky – Direktur Nanomaterials bidang Environment, Agriculture and Technology yang juga dekan sementara Division of Mathematical and Physical Sciences UC Davis. Ilmuwan perempuan itu menawarkan Nag pelatihan kedokteran di fakultasnya. Nag diterima di sana.
“Saya meninggalkan rumah pukul 18.30 sepulang sekolah menuju UC Davis Mira Loma. Tinggal di lab sampai sekitar pukul sembilan atau sepuluh malam,” kata Nag. “Mereka memberi saya proyek untuk dikerjakan,” katanya. Proyek pertama itu adalah meneliti secara mikroskopis partikel-partikel yang bisa menghentikan kebakaran hutan. “Saya menemukan bahwa jika kita meningkatkan konsentrasi batu kuarsa di dalam tanah, hal itu bisa menyerap panas sehingga memerlukan suhu lebih tinggi untuk terjadinya api,” ujarnya. Sekarang pemerintah AS sudah memperkaya tanah di sepanjang jalan tol dengan batu kuarsa. Itulah aplikasi hasil penelitian yang dikerjakannya bersama profesor-profesor di UC Davis untuk mencegah terjadinya kebakaran dari bara api seperti puntung rokok yang kerap menjadi pemicu terjadinya kebakaran.
Selama bekerja di lab UC Davis itu ia melamar untuk melanjutkan kuliah di Stanford University. Ketika ia diterima, ibunya mengadakan pesta masakan India yang disajikan untuk 50 ilmuwan di lab itu. Para ilmuwan itu senang pada remaja itu karena banyak yang terbantu oleh hasil kerjanya di lab. Sergei Yushakov yang memasukkan Nag sebagai salah satu anggota tim penelitinya, menyebutkan senang dengan antusias Nag. Katanya, meski penelitiannya di bidang yang kotor, ternyata Nag tak alergi untuk ikut berkotor-kotor. “Ia mengesankan saya bahwa ia tak mau pasif terhadap ilmu pengetahuan. Ia mau tangannya kotor untuk suatu pengetahuan,” lanjut Yushakov.
Sementara Navrotsky yakin kalau Nag akan sukses. Dialah yang menjuluki Nag sebagai “Another Bill Gates”. Kesamaan itu mungkin merujuk pada keputusan Nag yang keluar dari Stanford demi mengembangkan perusahaan teknologinya dengan mengembangkan sel induk. Keputusan itu mirip Bill Gates yang memilih men-DO-kan diri demi mengembangkan Microsoft, dan semua tahu kalau Bill Gates berhasil secara ilmu dan juga bisnis hingga menjadi orang paling kaya di dunia. Navrotsky yakin hal yang sama bisa terjadi pada Nag. “Kelak ia bisa menjual (saham) perusahaannya dan sebagian uangnya bisa ia gunakan untuk pergi ke bulan,” kata Navrotsky.
Keinginan pergi ke bulan memang salah satu keinginan Nag yang diketahui Navrotsky. Dan sekarang jalan menuju ke sana makin terbuka. Nag meski kini baru berusia 24 tahun, sudah dianggap ilmuwan muda yang potensial oleh para profesor di Amerika. Dan Stem Cell Theranostics, perusahaannya, menjadi harapan banyak orang untuk mengatasi masalah kesehatan dunia. Prestasi itulah yang membuat Majalah Forbes memasukan Nag ke dalam kelompok 30 anak muda di bawah usia 30 tahun (30 Under 30) yang berprestasi dari berbagai bidang. Bagi bangsa Asia, Nag menjadi kebanggaan karena membuktikan bahwa kini banyak anak-anak Asia yang pintar dan mengagumkan mengalahkan bangsa lain.
Kebiasaan itu keterusan sampai ia sekolah. Berkat keingintahuannya yang tinggi prestasi sekolahnya pun baik. Setelah lulus dari Mira Loma High School, ia masuk ke Stanford University dengan mengambil studi bidang kedokteran. Pada saat inilah ia tertarik melakukan penelitian bidang kedokteran. Inspirasinya datang dari pemenang Nobel bidang kedokteran asal Jepang, Shinya Yamanaka, yang menemukan bahwa sek-sel kulit bisa diubah menjadi sel induk (stem cell). Penemuan itu memungkinkan pengembangan organ tubuh pengganti bagi mereka yang terserang penyakit. Berdasarkan hal itu, Nag tertarik untuk meneliti para penderita penyakit jantung di Amerika. Ia kemudian bermimpi membuat sel jantung. Karena itu, meski sebagai mahasiswa muda, ia mencoba melakukan penelitian itu. Setidaknya ia menghabiskan 60-80 jam seminggu untuk melakukannya di laboratorium kampusnya.
Untuk mengintensifkan penelitiannya Nag kemudian mendirikan lab sendiri bersama tiga rekan seniornya (dua orang profesor), bernama Stem Cell Theranostic. “Satu kontroversi saat itu adalah soal etik menggunakan sel induk dari ebmrio,” katanya. Itulah alasannya kenapa ia dan kawan-kawannya mendirikan perusahaan sendiri. Ia sendiri kemudian drop-out dari Stanford University.
Perusahaan itu mereka dirikan dengan modal pinjaman US$20 juta dari California Institute melalui program Regenerative Medicine. Kampusnya sendiri, menjamin teknologi yang digunakan Stem Cell Theranostics. Perusahaan ini malah sekarang menjadi harapan baru di dunia kedokteran modern untuk penyembuhan penyakit jantung. “Suatu hari kelak, jika Anda terkena serangan jantung, Anda tak perlu menunggu orang yang akan mendonorkan jantungnya. Kami berharap dengan menumbuhkan sel kulit Anda, Anda akan mendapatkan sel jantung Anda untuk mengganti sel-sel jantung Anda yang rusak,” ujar Nag.
Itulah sebabnya teknologi yang dikembangkannya sangat futuristik dan diharapkan banyak orang. Meski saat ini pihak FDA (Food and Drug Administration) belum memberikan lisensi produknya, tapi ia yakin lisensi itu bisa didapatkannya, maksimal 10 tahun lagi.
Banyak pihak yang memuji langkah Nag mendirikan perusahaan itu. Bahkan dengan kecerdasannya itu sampai ada yang menyebut bahwa Nag adalah “Another Bill Gates” karena masa depan industrinya yang begitu cerah.
Nag adalah anak pasangan imigran dari Jaipur, India. Ayahnya seorang manajer programer di Intel Folsom. Saat usianya 13 tahun, ia mengikuti proses interview untuk menjadi murid termuda di Folsom Lake College. Ia tertarik ke bidang geometri, pra-kalkulus, dan statistik. “Saya selalu mencari tantangan. Ketika orang bilang bahwa saya tak bisa melakukannya, itu justru membuat saya ingin melakukannya,” katanya menggambarkan sifatnya.
“Ia selalu jadi pelopor,” kata sang ayah, Harish Nag. “Sejak dari kecil ia selalu memenangkan berbagai macam penghargaan. Prestasinya melesat. Ia juga menjadi presiden dari organisasi pelajar di El Dorado Hills, Rolling Hill Middle School,” ujar ayahnya lagi menunjukkan kegiatan lain sang anak.
Nag mengatakan pada ayahnya bahwa ia ingin sekolah di Mira Loma High School International Baccalaurete di Sacramento, yang jaraknya harus ditempuh dalam waktu 45 menit dari rumahnya. Keinginannya itu karena di sana ada berbagai kegiatan sains yang menarik hatinya. Tetapi setelah sekolah di sana ternyata kegiatan itu dirasanya terlalu kecil baginya. “Saya ingin bekerja dengan para ilmuwan. Ayah saya selalu mengajarkan, ‘Jika kamu jadi orang paling pintar di kelas, keluarlah (cari tantangan lain)’,” ujar Nag. Karena itu ia pergi dan mencari tantangan baru. Perhatiannya tertambat pada laboratorium University of California (UC) Davis yang ia temukan di internet. Ada 50 ilmuwan di sana. Semua hasil riset mereka ia pelajari. Setelah itu Nag mengirimkan nilai rapor dan surat lamaran ke universitas itu untuk bekerja di sana. Maksudnya, ia ingin jadi peneliti juga.
Tak ada yang menanggapi kecuali Alexandra Navrotsky – Direktur Nanomaterials bidang Environment, Agriculture and Technology yang juga dekan sementara Division of Mathematical and Physical Sciences UC Davis. Ilmuwan perempuan itu menawarkan Nag pelatihan kedokteran di fakultasnya. Nag diterima di sana.
“Saya meninggalkan rumah pukul 18.30 sepulang sekolah menuju UC Davis Mira Loma. Tinggal di lab sampai sekitar pukul sembilan atau sepuluh malam,” kata Nag. “Mereka memberi saya proyek untuk dikerjakan,” katanya. Proyek pertama itu adalah meneliti secara mikroskopis partikel-partikel yang bisa menghentikan kebakaran hutan. “Saya menemukan bahwa jika kita meningkatkan konsentrasi batu kuarsa di dalam tanah, hal itu bisa menyerap panas sehingga memerlukan suhu lebih tinggi untuk terjadinya api,” ujarnya. Sekarang pemerintah AS sudah memperkaya tanah di sepanjang jalan tol dengan batu kuarsa. Itulah aplikasi hasil penelitian yang dikerjakannya bersama profesor-profesor di UC Davis untuk mencegah terjadinya kebakaran dari bara api seperti puntung rokok yang kerap menjadi pemicu terjadinya kebakaran.
Selama bekerja di lab UC Davis itu ia melamar untuk melanjutkan kuliah di Stanford University. Ketika ia diterima, ibunya mengadakan pesta masakan India yang disajikan untuk 50 ilmuwan di lab itu. Para ilmuwan itu senang pada remaja itu karena banyak yang terbantu oleh hasil kerjanya di lab. Sergei Yushakov yang memasukkan Nag sebagai salah satu anggota tim penelitinya, menyebutkan senang dengan antusias Nag. Katanya, meski penelitiannya di bidang yang kotor, ternyata Nag tak alergi untuk ikut berkotor-kotor. “Ia mengesankan saya bahwa ia tak mau pasif terhadap ilmu pengetahuan. Ia mau tangannya kotor untuk suatu pengetahuan,” lanjut Yushakov.
Sementara Navrotsky yakin kalau Nag akan sukses. Dialah yang menjuluki Nag sebagai “Another Bill Gates”. Kesamaan itu mungkin merujuk pada keputusan Nag yang keluar dari Stanford demi mengembangkan perusahaan teknologinya dengan mengembangkan sel induk. Keputusan itu mirip Bill Gates yang memilih men-DO-kan diri demi mengembangkan Microsoft, dan semua tahu kalau Bill Gates berhasil secara ilmu dan juga bisnis hingga menjadi orang paling kaya di dunia. Navrotsky yakin hal yang sama bisa terjadi pada Nag. “Kelak ia bisa menjual (saham) perusahaannya dan sebagian uangnya bisa ia gunakan untuk pergi ke bulan,” kata Navrotsky.
Keinginan pergi ke bulan memang salah satu keinginan Nag yang diketahui Navrotsky. Dan sekarang jalan menuju ke sana makin terbuka. Nag meski kini baru berusia 24 tahun, sudah dianggap ilmuwan muda yang potensial oleh para profesor di Amerika. Dan Stem Cell Theranostics, perusahaannya, menjadi harapan banyak orang untuk mengatasi masalah kesehatan dunia. Prestasi itulah yang membuat Majalah Forbes memasukan Nag ke dalam kelompok 30 anak muda di bawah usia 30 tahun (30 Under 30) yang berprestasi dari berbagai bidang. Bagi bangsa Asia, Nag menjadi kebanggaan karena membuktikan bahwa kini banyak anak-anak Asia yang pintar dan mengagumkan mengalahkan bangsa lain.
Sumber :andriewongso.com
Untuk mendapatkan informasi produk-produk training kami
Gg. Salak , Muntal, Gunungpati
Kota Semarang, Jawa Tengah
Telp. (024) 7691 7578
Hubungi HP. 085640-750440 Solikin
HP. 085640-398242 Suratman
Sumber : andriewongso.com
EmoticonEmoticon